Katakamidotcom News Indonesia

Please also visit : KATAKAMIDOTCOMNEWSINDONESIA.BLOGSPOT.COM

Berstandar Gandakah SBY & Obama Soal Flotilla Gaza, Oh Memang Lidah Tak Bertulang !

 

Statement by PM Netanyahu : “No Love Boat”

[Youtube] PM Netanyahu’s Response To U.N. No Weapons To Hamas

Insiden Kapal Freedom Flotilla Di Laut Gaza Mendorong Perdamaian Ke Jurang Kehancuran

 

 

Jakarta 2/6/2010 (KATAKAMI) Simaklah keterangan pers Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkomentar soal pendeportasian warga negara Indonesia yang ikut dalam iring-iringan kapal ARMADA KEBEBASAN atau yang lebih dikenal dengan sebutan FREEDOM FLOTILLA di Perairan Gaza.

Ada 12 orang warga negara Indonesia yang ikut dalam pelayaran tersebut dan akhirnya 10 diantaranya sudah tiba selamat di Yordania pada hari Rabu (2/6/2010).

Presiden SBY meminta para pemimpin dunia dan Sekjen PBB segera mengambil langkah tegas menyikapi serangan Israel terhadap aktivis kemanusiaan.

Presiden SBY memberikan keterangan pers soal Flotilla (2/6/2010)

 
“Diplomasi kita ke depan mendesak PBB to take action yang pasti, yang tegas terhadap insiden (penembakal kapal Mavi Marmara) ini,” katanya dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Rabu (02/06).
 
Indonesia, kata Presiden, mengecam keras serangan Israel dan meminta dunia internasional menekan Israel menghentikan serangan militer. “Kembali keperundingan,” katanya.
 
Indonesia, kata Presiden, siap terlibat aktif dalam usaha kemerdekaan Palestina. Selain itu, Presiden juga meminta dunia internasional menekan Isreal agar berhenti membuka pemukiman baru.
 
 Rezim SBY seakan menerapkan standar ganda dalam hal “penghormatan” terhadap umat Islam.

Rezim yang sedang menjalankan kekuasaannya periode kedua ini, hendaknya membuka kembali catatan hitam perjalanan pemerintahannya di bidang keamanan di negeri ini. Sehingga, catatan-catatan lama itu akan membuat Presiden SBY lebih bijaksana jika mau mengkritik negara lain yang dianggap brutal, biadab, buas atau selaknat apapun dalam hal “penghormatan” terhadap umat Islam.

Ulama Islam terkemuka di POSO, Ustadz Adnan Arsal pemimpin Pondok Pesantren Al Amanah

 

Bersuara Tentang Ustadz Abu Bakar Baasyir, Mari Lawan Semua “Terorisme”

Istana Mau Diledakkan ? Ngarang Aja, TNI Tidak Tidur Boss …

Periksa Gories Mere Skandal Madrid Korupsi Alat Sadap Israel

 

Kasus pertama adalah penembakan BRUTAL di malam takbiran tahun 2006.

Persis di saat masyarakat di Tebang Rejo- Poso (Sulawesi Tengah) sedang mengumandang takbir ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR sebagai tanda berakhirnya bulan ramadhan yang maha suci, Tim Anti Teror Polri (atas perintah dari Pimpinan Tim Anti Teror Polri ketika itu yaitu Irjen Gories Mere, saat ini telah menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional atau BNN dan telah berpangkat Komjen) menembaki sebuah PONDOK PESANTREN AL AMANAH pimpinan Haji Adnan Arzal.

Hebatnya lagi, penembakan BRUTAL di malam takbiran itu disiarkan langsung di sebuah televisi atas kebaikan hati petinggi Polri tersebut.

Alasan Tim Anti Teror Polri menembaki secara BRUTAL Pondok Pesantren Al Amanah itu adalah untuk mencari buronan-buronan terorisme yang masuk dalam DAFTAR PENCARIAN ORANG atau DPO.

Ternyata yang dicari tidak ada disana tetapi nasi sudah menjadi bubur.

Penembakan BRUTAL itu dikecam oleh semua pihak dan secara otomatis membuat situasi keamanan di POSO menjadi panas membara.

Tim Independen dari Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia turun langsung ke lokasi dan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama setelah melakukan investigasi maka di umumkan POLRI (dalam hal ini Tim Anti Teror Polri) telah melakukan PELANGGARAN HAM.

http://x03.xanga.com/2f4a62f4c263271918311/b48399968.jpg

Kasus kedua adalah penembakan BRUTAL (juga terjadi di POSO -SULAWESI TENGAH) tanggal 22 Januari 2007.

Alasan dari Tim Anti Teror Polri pada RAID atau operasi penyerangan ini adalah untuk mencari buronan terorisme yang masuk dalam DPO.

Dan hebatnya lagi, penembakan ini kembali dilakukan atas perintah dari Gories Mere yang saat itu berada di Washington DC untuk sebuah tugas mendampingi pimpinannya di Mabes Polri yang sedang berkunjung ke Amerika Serikat.

Penembakan brutal yang membabi buta dari Tim Anti Teror Polri tanggal 22 Januari 2007 ini menewaskan 13 orang UMAT ISLAM di TANAH RUNTUH – POSO yang tidak bersalah. Dari korban tewas sebanyak 13 orang itu, tidak ada satupun yang masuk dalam DPO terorisme versi Polri.

Nyawa UMAT ISLAM POSO kembali melayang secara sia-sia akibat brutalisme aparat keamanan Indonesia.

Tragegi berdarah yang sangat mengerikan di POSO itu adalah klimak dari brutalisme dari operasi pendahuluannya.

Sebab 11 hari sebelum RAID atau operasi penyerangan itu dilakukan, tanggal 11 Januari 2007 Tim Anti Teror Polri telah menembaki juga lokasi perumahan warga Poso.

Tetapi RAID ini dilanjutkan 11 hari kemudian dan memakan korban jiwa yang sangat banyak sekali.

Tim Independen dari KOMNAS HAM kembali diturunkan ke lokasi dan dari hasil investigasi mereka dinyatakanlah bahwa Tim Anti Teror Polri atau Densus 88 Anti Teror Polri telah melakukan pelanggaran HAM.

http://www.kontras.org/poso/pers/foto/2007-01-23.jpg

Komisi Orang Hilang & Korban Kekerasan (KONTRAS) saat itu (Januari 2007)  juga menggelar jumpa pers yang mengecam kegagalan Presiden SBY menangani POSO yang antara lain menegaskan sebagai berikut :

Kami menyesalkan jatuhnya 13 korban sipil dan 1 anggota polisi yang tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Polda Sulteng di Poso kemarin (22/1/2007). Akibatnya masyarakat ketakutan dan mengungsi meninggalkan Poso Kota. Di sisi lain, keluarga mendapatkan kesulitan untuk mengakses informasi atas keberadaan korban yang meninggal dan luka-luka. Polisi juga tidak mengumumkan secara terbuka identifikasi korban yang telah meninggal dunia maupun luka-luka.

Jatuhnya korban ini seharusnya dapat dihindari bila polisi tidak melakukan penyerangan terbuka di wilayah padat, penduduk Poso kota serta di waktu dimana masyarakat mulai sibuk beraktivitas.  Tindakan ini tidak dapat dilihat hanya sebagai upaya penegakan hukum, namun juga dapat dikategorikan penyerangan terhadap warga sipil yang menjadi elemen penting dari pelanggaran berat HAM. Ditambah, pendekatan kekerasan ini justru gagal menangkap para DPO dilapangan. Hal ini juga membuktikan lemahnya aparat intelejen dalam mengantisipasi kekerasan.

Kekerasan yang terjadi Poso ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi Polri semata. Kekerasan yang terus berlangsung ini sesungguhnya menunjukkan Negara tidak memiliki Peta Perdamaian yang kongkrit dan gagal mengkonsolidasi kekuatan negara yang ada bagi penciptaan rasa aman.

Polri memang mempunyai kewenangan untuk melakukan upaya paksa termasuk penggunaan kekerasan dengan senjata. Namun, penggunaan kekerasan dengan senjata api tersebut tetap harus tunduk pada persyaratan yang ketat pada kode etik aparatur penegak hukum (Code of Conduct for Law Enforcement Official) maupun prinsip dasar tentang penggunaan kekerasan dan senjata api (Basic Principles on the Use of Force and Firearmas by law Enforcement Officials)  yang menjamin kekerasan itu terarah pada pihak yang mengancam sesuai dengan tingkat ancamannya baik bagi polisi maupun warga sipil yang seharusnya dilindungi.

http://www.indonesiamatters.com/images/tibo-co.jpg

Tibo cs

Brutalisme rezim SBY, tak cuma memakan korban dari kalangan Islam.

Ingatlah, bagaimana sadisnya  eksekusi mati terhadap ketiga terpidana kasus POSO yaitu Fabianus Tibo dan kedua rekannya yaitu Dominggu Da Silva dan Marianus Riwu pada bulan September 2006.

Tibo CS di eksekusi mati dengan tembakan peluru tajam yang sangat amat banyak, tidak dikuburkan sebagaimana mestinya, tidak mendapatkan upacara keagamaan untuk pemakamannya dan bahkan sebelum di tembak mati Tibo di ejek secara sinis oleh polisi.

“Hei Tibo, mau di tembak sebelah mana kau ?” kata polisi itu.

Tibo menjawab, “Terserah Bapa, mau menembak di sebelah mana”.

Ejekan sinis yang melecehkan Tibo di ujung kematiannya terungkap dari saksi mata kalangan dokter independen yang menyaksikan langsung eksekusi mati tersebut. Dokter perempuan ini, sangat terpukul atas penghinaan dan penistaan yang dilakukan ataa diri Tibo.

http://www.indonesiamedia.com/2007/02/early/berta/images/berta/peta_poso_high.gif

Tidak usah terlalu banyak contoh yang bisa disuguhkan disini.

Cukup contoh-contoh kecil ini saja dan langsung bisa menggambarkan bagaimana brutalnya rezim SBY dalam menangani kasus-kasus yang bersentuhan dengan AGAMA.

Tahun 2006 itu, Tim Pembela Hukum Tibo CS sebenarnya ingin mengajukan Pemerintah Indonesia ke MAHKAMAH INTERNASIONAL.

Tetapi rencana ini batal.

Menurut pengacara Tibo CS, Roy Rening kepada KATAKAMI.COM ketika itu, mereka menyimpan sangat baik semua dokumentasi terkait kasus pembunuhan yang sadis terhadap Tibo CS.

Pictures of the weapons found on the Mavi Marmara ship where today
 
 

 

Sehingga kalau kini Presiden SBY mengecam keras penembakan Israel atas Armada Kebebasan “FREEDOM FLOTILLA” yang menewaskan 9 orang penumpangnya, maka kita semuapun bisa mengecam Presiden SBY atas brutalisme rezimnya terhadap umat Islam di POSO.

Kalau yang 9 orang tewas dari FREEFOM FLOTILLA saja mau di lakukan penyelidikan internasional, maka Indonesia harus membuka diri untuk semua brutalisme atas nama penanganan terorisme yang memakan korban dari KALANGAN ISLAM.

Inilah yang namanya LIDAH TAK BERTULANG.

Seenaknya saja mengecam orang tetapi rezim kekuasaan SBY tak jauh beda brutalismenya (bahkan jauh lebih buruk) saat menembaki umat Islam di POSO.

Dan hebatnya lagi, SBY ngotot mempertahankan petinggi Polri yang patut dapat diduga anti Islam dan nyata-nyata mengakibatkan berjatuhannya korban tewas dan korban luka di kalangan UMAT ISLAM.

Jangan tunjuk muka orang lain kalau ternyata muka sendiri penuh “kotoran kejahatan” !

Jangan caci maki orang lain karena dinilai tak berperikemanusiaan terhadap umat Islam kalau ternyata diri sendiri tidak lebih baik memperlakukan dan memberikan penghormatan yang sangat pantas kepada umat beragama di negara ini.

Jenderal Polri yang bolak balik membantai umat Islam (dan secara tegas dinyatakan sebagai PELANGGARAN HAM oleh Komnas HAM di Indonesia ini), sangat pantas untuk dijadikan sebagai penjahat kemanusiaan ke hadapan MAHKAMAH INTERNASIONAL.

Membunuhi warga sipil seenaknya secara membabi buta dan brutal sekali adalah kejahatan kemanusiaan.

Hei rezim yang kejam, jangan lindungi penjahat kemanusiaan tersebut di republik ini !

Dan Presiden SBY jangan munafik lewat kegarangannya menuding “muka” Israel (terlebih karena Indonesia yang merupakan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia ini memang tak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel), tahukah SBY bahwa seluruh GSM INCEPTOR ATAU ALAT SADAP GSM yang dipakai Tim Anti Teror Polri atau Densus 88 Anti Teror Polri dibeli dari Perusahaan Israel.

Alat Sadap Densus 88 bermerek GI 2 adalah buatan ISRAEL.

Wah, hebat ya, tidak punya hubungan DIPLOMATIK tetapi Kepolisian Republik Indonesia bisa berdagang dan mesra sekali jual beli alat sadap dengan Israel. 

 
 
 
 
 
 

“Hizbullah” is written across the slingshot used by rioters on the Mavi Marmara.

 

Dan kalau sekarang sedang ramai dibicarakan permasalahan serangan militer Israel ke Armada Kapal FREEDOM FLOTILLA, ini adalah momentum kemenangan Hamas yang dinyatakan sebagai organsiasi teroris oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan Amerika Serikat.

PBB dan Amerika Serikat menjilat kembali ludah mereka sendiri.

PBB dan Amerika Serikat harus mencabut dulu keputusan mereka memasukkan Hamas dalam daftar ORGANISASI TERORIS.

Sehingga, jika sekarang mau segarang apapun menekan Israel, PBB dan Amerika Serikat tidak mempunyai beban apapun.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan dukungan AS agar Dewan Keamanan PBB membentuk Tim Independen untuk menyelidiki serangan militer AS ke arah Armada Kapal FREEDOM FLOTILLA.

Permainan cantik yang sangat munafik dari Presiden Barack Obama sedang dipertontonkan di atas panggung internasional.Obama yang terindikasi betul sudah retak dan sangat tegang hubungannya dengan Israel, seakan tak mau bereaksi kepada dunia internasional.

Sok diam agar kesannya membela Israel.

Sok tenang tak mau ikut mengecam Israel agar kesannya AS tetap sekutu Israel.

Tetapi patut dapat diduga, Amerika menikmati terpojokan Israel saat ini dan agar aman di permukaan maka Menlu Clinton yang diperintahkan untuk berkomentar.

Tetapi Tuhan memang maha adil.

Disaat Menlu Hillary Clinton lantang mengkritik Israel, keluar pemberitaan tentang korban tewas umat Islam di IRAK periode bulan MEI 2010.

Bayangkan, dalam satu bulan saja umat Islam di IRAK mati alias tewas sebanyak 275 orang.

Itu hanya dalam satu bulan !

http://davespicks.com/images/freeiraq.gif

 

Korban Tewas Warga Sipil Yang Dibunuh Di Irak Bulan Mei 2010 Tertinggi Angkanya Yaitu 275 Orang !

 

Dari rentang waktu 9 tahun sejak AS melakukan invasi (sadis) ke Irak yaitu periode tahun 2001 – 2010, patut di pertanyakan sudah berapa ribu orang umat Islam IRAK yang mati dibunuh oleh militer Amerika ?

Mengapa Dewan Keamanan PBB diam saja ?

Mengapa Obama yang sangat “manis senyumannya ini”, mendadak tidak bisa berhitung bahwa angka kematian sebanyak 275 orang dalam satu bulan itu adalah angka yang sangat mengerikan.

Yang ingin disampaikan disini adalah semua negara di muka bumi ini janganlah menerapkan standar ganda.

Menuding muka negara lain dengan gaya yang garang dan sarkasme.

Tetapi ternyata muka sendiri penuh bopeng dan berlumuran darah manusia yang nyawanya melayang sia-sia atas brutalisme masing-masing rezim.

http://cache.daylife.com/imageserve/00UyefMdJk7SG/610x.jpg

PM Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi prajuritnya yang terluka diserang dalam Kapal Flotilla (1/6/2010)

 

(YOUTUBE) Statement by PM Netanyahu Regarding Gaza Flotilla Clash

Gaza flotilla: Statement by PM Netanyahu

Photos : PM Netanyahu Visits Wounded Soldiers at The Hospital

 

Biarkan dulu Israel melakukan penyelidikan internal mereka tentang apa sebenarnya yang terjadi.

Dewan Keamanan PBB bisa memberikan tenggang waktu kepada Israel agar hasil penyelidikan itu diserahkan secara transparan.

Jadi jangan berlomba berteriak semua.

Atau pura-pura tetap “tersenyum sangat manis bak sahabat penuh pengertian” tetapi sebenarnya paling menikmati permainan politik yang mengedepankan kelicikan dan kecurangan masing-masing.

Sekali lagi, janganlah menerapkan standar ganda.

Israel memang perlu di ingatkan bahwa mereka tidak bisa hidup sendirian di muka bumi ini.

Dan memang sialnya Israel, ia bertetangga sangat dekat justru dengan Pihak Hamas yang saat ini menjadi “penguasa tunggal” Jalur Gaza.

Kategori TERORIS terhadap Hamas, adalah label atau stigma buruk yang legal dari PBB dan Amerika Serikat.

Kalau memang PBB dan Amerika begitu murah hati, penuh belas kasihan dan sangat baik hati kepada rakyat Palestina secara keseluruhan (termasuk yang hidup di bawah kekuasaan Hamas di Jalur Gaza) maka ketentuan memasukkan Hamas ke dalam daftar teroris global itu harus dicabut.

Siapkah PBB dan Amerika melakukan itu ?

Maukah PBB dan Amerika memberikan itu ?

http://rlv.zcache.com/obama_hamas_v_us_israel_bumper_sticker-p128354913119587130trl0_400.jpg

Khususnya Yang Mulia Presiden Obama yang terkesan berstandar ganda yaitu seolah ingin dinilai bersekutu dengan Israel tetapi tampaknya untuk pertama kali dalam sejarah Amerika ada Presiden negara adidaya yang bersitegang dan tak pernah mau rukun dengan Israel.

Jangan menyebut diri sebagai juru damai kalau posisi Obama tak bisa netral dan tak sanggup mendamaikan Israel – Palestina.

Sekali lagi dan lagi-lagi mau diingatkan disini, janganlah menerapkan standar ganda !

Kalau ya, katakan ya.

Kalau tidak, katakan tidak.

Jangan berdiri di atas wilayah abu-abu.

Sama seperti esensi dari nilai-nilai kebenaran yang paling hakiki, jika benar katakan benar, dan jika salah katakan salah.

Mari membela rakyat Palestina secara keseluruhan (tanpa ada pengkotak-kotakan) sehingga pembelaan itu harus diwujudkan dengan cara merealisasikan segera perdamaian itu dengan Pihak Israel.

Lebih baik, Amerika (khususnya Presiden Obama) angkat kaki dari proses perdamaian Timur Tengah kalau memang tak bisa secara elegan mendamaikan kedua belah pihak ini.

Damaikanlah mereka tetapi dengan cara yang terhormat yaitu mencarikan solusi-solusi terbaik (bahkan dalam hal-hal yang sangat amat teknis sekalipun).

Damaikanlah mereka tetapi jangan lagi memojokkan satu pihak dari kedua belah pihak yang bertikai ini yaitu Israel dan Palestina.

 

http://muslimdaily.net/new/berita/hamas-rocket-launchers.jpg

Hamas dan persenjataannya

 

Hendaklah satu antara kata dan perbuatanmu, oh Yang Mulia Presiden Obama.

Dunia menyaksikan betapa terseok-seoknya proses perdamaian itu sejak Obama ditempatkan sebagai juru damai selama ia memerintah sebagai Presiden AS yang ke 44.

Tak usah lagi ingin dinilai seolah-olah bersekutu dengan Israel (padahal hubungan itu sudah retak sangat parah).

Sudahlah, sederhana saja yang patut disampaikan disini kepada Presiden Obama dan Amerika.

Bisa atau tidak menjadi juru damai ?

Kalau bisa, damaikanlah Israel dan Palestina secara baik.

Bukan justru dibiarkan jadi bertambah runyam dan … Obama seolah ingin menikmati situasi yang serba kusut berkepanjangan ini.

Uh !

Ternyata kemampuan Obama mendamaikan Israel dan Palestina “tak semanis” senyumannya yang kata orang manis.

Payah ….

Dan Obama ataupun Gedung Putih tak usah latah mengumumkan bahwa pihak merekalah yang membatalkan rencana pertemuan dengan PM Netanyahu pasca serangan pada kapal FREEDOM FLOTILLA.

 

http://soldierofallah11.files.wordpress.com/2009/10/hamas1.jpg?w=630

Foto : HAMAS dan persenjataannya

 

Obama told Netanyahu: Go Home, Don’t Explain From Here

10,000 flowers sent to Netanyahu after White House ‘ambush’

 

Bahkan sampai harus merinci omongan, “Go Home, Dont explain from here !”.

Terlalu murahan pengumuman yang tidak substansial itu sebab ketika didalam negerinya terdapat permasalahan serius, mau tak mau PM Netanyahu memang harus pulang ke Israel untuk mengendalikan situasi.

Setelah melakukan kunjungan ke Perancis, PM Netanyahu melanjutkan kunjungannya ke Canada akhir Mei lalu.

Rencananya dari Canada, PM Netanyahu akan bertolak menuju Washington DC untuk memenuhi undangan pertemuan dari Presiden Obama tanggal 1 Juni 2010.

Akan tetapi, saat serangan militer Israel ke arah Armada Kapal FREEDOM FLOTILLA terjadi (31/5/2010), PM Netanyahu batal bertemu Obama dan kembali ke Israel.

PM Netanyahu kembali ke Israel setelah ia memutuskan mempersingkat kunjungannya di Canada.

Dan begitu tiba di Israel (1/6/2010), ia mengendalikan langsung situasi di dalam negerinya (termasuk mengunjungi prajurit-prajurit IDF yang dirawat di rumah sakit karena menderita luka luka akibat serangan penumpang Armada FREEDOM FLOTILLA.

Kan tidak lucu, sampai urusan siapa yang membatalkan duluan pertemuan itu, sampai harus jadi bahan pemberitaan.

Kayak tidak ada topik pemberitaan lain saja.

Kasihan sekali.

Cara-cara Obama dan Gedung Putih memainkan kata-kata dan lakon-lakon yang terpampang di atas panggung dunia, lama kelamaan sudah sangat membosankan.

Tak sedap didengar dan tak elok dipandang, ada penguasa dunia yang tak mau kehilangan “panggung” dalam situasi yang sangat memprihatinkan seperti ini. Mana buktinya, kalau Obama bisa dan pantas menjadi jurudamai ?

Dunia perlu bukti, bukan janji.

Dunia perlu tindakan nyata, bukan arogansi yang kecenderungannya menghina, merendahkan dan menistakan pihak lain.

 

(MS)


 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,639 other followers

%d bloggers like this: